Beranda > Warna Warni Maksiat > Muslim Kanibal

Muslim Kanibal

Penulis: Al Ustadz Abu Muawiah Hammad

Allah Ta’ala berfirman:

وَلا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

“Dan janganlah kalian saling melakukan ghibah, apakah salah kalian senang untuk memakan daging saudaranya yang sudah mati, tentu kalian tidak senang melakukannya.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya:

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah kalian, apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak dia sukai.” Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila apa yang saya bicarakan itu memang betul ada pada orang yang saya bicarakan itu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah mengghibahinya. Dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya.” (HR. Muslim no. 2589)

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَمَّا عُرِجَ بِي مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ فَقُلْتُ مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ

“Ketika aku diangkat (mi’raj) ke langit, aku melewati suatu kaum yang kuku mereka terbuat dari tembaga, kuku itu mereka gunakan untuk mencakar muka dan dada mereka. Aku lalu bertanya, “Wahai Jibril, siapa mereka itu?” Jibril menjawab, “Mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan terjun membicarakan kehormatan mereka.” (HR. Abu Daud no. 4878 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 5213)

Dari Abu Ad-Darda’ radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ رَدَّ اللَّهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya (sesama muslim), maka Allah akan membela (menahan) neraka dari wajahnya pada hari kiamat.” (HR. At-Tirmizi no. 1931 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6262)

Penjelasan ringkas:

Ghibah adalah suatu akhlak tercela yang definisinya telah dijelaskan langsung oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri, sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu di atas. Dari definisi di atas ada 3 perkara yang butuh dibedakan, walaupun ketiga perkara ini sudah jelas merupakan hal yang diharamkan:

1.    Al-Ghibah: Membicarakan sesuatu tentang saudaranya -ketika saudaranya tidak mendengarnya- yang saudaranya benci kalau sesuatu itu disebutkan. Dan sesuatu itu betul-betul ada pada saudaranya.

2.    Al-Buht: Sama dengan ghibah, bedanya, sesuatu itu tidak benar ada pada saudaranya.

3.    As-Sabb/Asy-Syatm: Membicarakan kejelekan saudaranya di hadapannya, yakni ketika saudaranya hadir atau mendengar ucapannya.
Maka dari sini kita melihat, bagaimanapun bentuknya, membicarakan saudara sesama muslim dengan sesuatu yang dia tidak senang untuk mendengarnya, tidaklah keluar dari ketiga jenis dosa besar di atas.

Ghibah adalah hal yang diharamkan, sekecil apapun ghibah yang dilakukan. Dari ‘Aisyah radhiallahu anha dia berkata:

قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّةَ كَذَا وَكَذَا -قَالَ غَيْرُ مُسَدَّدٍ تَعْنِي قَصِيرَةً- فَقَالَ لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ. قَالَتْ: وَحَكَيْتُ لَهُ إِنْسَانًا فَقَالَ مَا أُحِبُّ أَنِّي حَكَيْتُ إِنْسَانًا وَأَنَّ لِي كَذَا وَكَذَا

“Aku pernah berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Cukuplah Shafiah bagimu bahwa dia itu seperti ini dan seperti ini -perawi selain Musaddad berkata, “Maksudnya: Dia pendek.”- Maka beliau bersabda, “Sungguh engkau telah mengucapkan suatu ucapan, yang sekiranya ucapan itu dicampur dengan air laut niscaya ucapan itu akan mengotori lautan tersebut.” Aisyah berkata, “Aku juga pernah menceritakan tentang orang lain kepada beliau, tetapi beliau balik berkata, “Aku tidak senang menceritakan perihal orang lain meskipun saya mempunyai begini dan begitu.” (HR. Abu Daud no. 4232)

Maka perhatikan di sini bagaimana kotornya ucapan ghibah itu, saking kotornya sehingga ghibah yang kecil (hanya mengatai seseorang itu pendek) sekalipun bisa mengotori air yang berada di lautan, nas`alullaha as-salamah wal afiyah.

Dan balasan itu disesuaikan dengan jenis amalan. Tatkala dia mempermalukan saudaranya dengan ghibah, maka Allah Ta’ala akan mempermalukan dirinya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk ketika Allah menyebutkan satu per satu semua aibnya di dunia. Dari Ibnu Umar radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menaiki mimbar lalu menyeru dengan suara yang lantang:

يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الْإِيمَانُ إِلَى قَلْبِهِ لَا تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تُعَيِّرُوهُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

“Wahai sekalian orang yang hanya berislam dengan lisannya namun keimanan belum tertancap di dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, jangan pula kalian memperolok mereka, dan jangan pula kalian menelusuri.mencari-cari aib mereka. Karena barangsiapa yang mencari-cari aib saudaranya niscaya Allah akan mencari-cari aibnya, dan barang siapa yang aibnya dicari-cari oleh Allah niscaya Allah akan mempermalukan dia meskipun dia berada di dalam rumahnya sendiri.” (HR. Abu Daud no. 4236 dan At-Tirmizi no. 2032)

Kaum muslimin itu adalah ibarat satu tubuh, karenanya tatkala dia melukai perasaan saudaranya dengan ghibah di dunia, maka dia akan melukai dirinya sendiri pada hari kiamat dengan luka yang sangat menyakitkan, sebagaimana yang tersebut dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu anhu di atas.

Maka berdasarkan dalil-dalil di atas, ghibah adalah dosa besar bahkan termasuk di antara dosa-dosa besar yang terbesar. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah ayat dalam surah Al-Hujurat, dimana Allah Ta’ala menyamakan pelaku ghibah dengan orang yang memakan bangkai manusia (kanibal). Memakan bangkai pada dasarnya adalah dosa besar, apalagi jika yang dimakan itu bangkai manusia, apalagi jika manusia itu adalah seorang muslim, maka bisa dibayangkan bagaimana dosa besar berlipat-lipat yang didapatkan oleh pelaku ghibah.

Dalam hadits Sa’id bin Zaid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا الِاسْتِطَالَةَ فِي عِرْضِ الْمُسْلِمِ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Sesungguhnya seburuk-buruk riba adalah merusak kehormatan orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan.” (HR. Abu Daud no. 4233 dan dinyatakan shahih oleh Al-Wadi’i dalam Ash-Shahih Al-Musnad: 1/313)

Ini jelas menunjukkan bahwa ghibah merupakan dosa besar, karena sebesar-besarnya dosa riba, ghibah jauh lebih besar dosanya daripada dosa riba.

Bagaimana cara bertaubat dari ghibah?

Bertaubat kepada Allah dengan syarat-syarat taubat yang lima, itu sudah jelas wajibnya. Yang menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah apakah dia wajib mengakui perbuatannya kepada orang yang telah dia ghibahi ataukah cukup dia bertaubat kepada Allah dan tidak perlu berterus terang kepada orang yang telah dia ghibahi.

Yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim dan yang dipilih oleh Ibnu Taimiah adalah dia tidak perlu memberitahu dan berterus terang kepada korban ghibahnya. Dia cukup bertaubat kepada Allah dengan taubat yang nasuha, serta dia wajib menyebutkan kebaikan-kebaikan saudaranya itu dalam majelis-majelis dimana dia dahulu menyebutkan kejelekan saudaranya. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.

Apakah semua bentuk menyebutkan kejelekan sesama muslim merupakan ghibah yang diharamkan?

Jika terdapat maslahat yang besar di balik menyebutkan kejelekan saudara, maka ketika itu diperbolehkan menyebutkan kejelekan saudaranya karena adanya maslahat yang lahir di baliknya. Dalam kitab Subul As-Salam disebutkan beberapa bentuk celaan kepada saudara yang diperbolehkan dan bukan merupakan ghibah. Diringkas dalam dua bait syair:

اَلذَّمُّ لَيْسَ بِغِيْبَةٍ فِي سِتَّةٍ            مُتَظَلِّمِ وَمُعَرِّفِ وَمُحَذِّرِ
وَلِمُظْهِرٍ فِسْقًا وَمُسْتَفْتٍ وَمَنْ            طَلَبَ الْإِعَانَةِ فِي إِزَالَةِ مُنْكَرِ

“Celaan bukanlah ghibah dalam enam perkara: Orang yang terzhalimi, orang yang memperkenalkan, dan orang yang mentahdzir, orang yang terang-terangan berbuat kefasikan, orang yang minta fatwa, dan orang yang meminta bantuan dalam menghilangkan kemungkaran.”

Berikut penjelasan 6 perkara ini secara ringkas:

1.    Boleh bagi orang yang dizhalimi untuk menyebutkan kejelekan orang yang menzhaliminya, yaitu kejelekan berupa kezhaliman yang dia perbuat.

2.    Jika ada seseorang yang dikenal dengan suatu aib dan dia tidak dikenal atau susah dikenali kecuali dengan aib itu, maka orang yang memperkenalkannya dibolehkan menyebutkan aib tersebut ketika memperkenalkan oran itu agar dia mudah dikenali. Misalnya seorang ulama besar dan rawi hadits dari Bashrah yang bernama Muhammad bin Ja’far. Beliau digelari oleh gurunya dengan nama Ghundar yang berarti pengganggu. Jika namanya disebut maka banyak rawi yang bernama Muhammad bin Ja’far sehingga sulit untuk diketahui kalau perawi itu adalah beliau. Tapi jika disebutkan Ghundar, maka langsung diketahui kalau itu beliau. Dan ini banyak dalam rawi-rawi hadits, ada yang digelari Al-A’masy (yang rabun), Al-A’war (yang rusak penglihatannya), Adh-Dhaif (yang lemah tubuhnya), dan seterusnya.

3.    Orang yang mentahdzir, sudah jelas harus menyebutkan kejelekan saudaranya berupa kesesatan yang dia anut.

4.    Orang yang terang-terangan berbuat kefasikan tidaklah mempunyai kehormatan, karenanya dia boleh dicela dengan maksiat yang dia kerjakan terang-terangan tersebut.

5.    Orang yang meminta fatwa tentang suatu kejelekan atau orang yang jelek, tentu saja harus menyebutkan kejelekan dari orang tersebut, karena itu berkenaan dengan hukum masalah yang dia pertanyakan.

6.    Untuk meminta bantuan kepada yang mampu menghilangkan suatu kemungkaran, jelas harus menceritakan kemungkaran dan para pelakunya kepada orang yang kita mintai bantuan tersebut.

Apa yang harus dilakukan oleh orang yang mendengar ghibah?

Dia wajib membela kehormatan saudaranya dengan mengingkari pelaku ghibah tersebut, berdasarkan hadits Abu Ad-Darda` radhiallahu anhu di atas. Jika dia tidak sanggup membela kehormatan saudaranya, maka dia wajib meninggalkan tempat tersebut dan tidak duduk bersama pelaku ghibah tersebut. Hal itu karena ghibah merupakan perbuatan mengolok-olok aturan Allah Ta’ala dan barangsiapa yang ridha dengannya maka sama saja jika dia sendiri yang langsung mengerjakannya. Hal itu karena para ulama menyatakan bahwa orang yang ridha sama seperti pelaku.

Dalil dari hal ini adalah firman Allah Ta’ala dalam surah An-Nisa` ayat 140 yang artinya, “Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kalian perintah di dalam Al Quran, yaitu apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kalian duduk bersama mereka, sampai mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kalian berbuat demikian), tentulah kalian sama seperti mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.”
Maka dalam ayat ini Allah Ta’ala menggabungkan orang munafik dengan orang yang mendengarkan kemunafikan bersama di dalam neraka, dan juga menggabungkan orang kafir dengan orang yang mendengarkan kekafiran bersama-sama di dalam neraka. Maka demikian pula pelaku ghibah dan yang mendengarnya, Allah Ta’ala akan menggabungkan mereka semua di dalam satu tempat di dalam neraka. Wal ‘iyadzu billah.

Sumber Website: http://al-atsariyyah.com/muslim-kanibal.html

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: