Beranda > Pintu Tobat > Empat Perangai Jahiliyyah Yang Masih Menjangkiti Umat Ini

Empat Perangai Jahiliyyah Yang Masih Menjangkiti Umat Ini

Penulis: Redaksi As Salafy Jember

Lanjutan pembahasan Kitab At-Tauhid Bab Maa Ja-a Fil Istisqa’ bil Anwa’ yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Sa’id Hamzah pada kajian LKIBA Ahad, 24 Muharram 1431 / 10 Januari 2010. Berikut catatannya.

وعن أبي مالك الأشعري رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « أربع في أمتي من أمر الجاهلية لا يتركونهن : الفخر بالأحساب، والطعن في الأنساب، والاستسقاء بالنجوم، والنياحة ». وقال : « النائحة إذا لم تتب قبل موتها تقام يوم القيامة وعليها سربال من قطران ، ودرع من جرب » . رواه مسلم.

Dari shahabat Abu Malik Al-Asya’ri -radhiyallahu ‘anhu (semoga Allah meridhainya)-, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada umatku, ada empat sifat (perangai) Jahiliyyah yang belum mereka tinggalkan. (Sifat-sifat tersebut adalah): (1) berbangga dengan keturunan, (2) mencela nasab, (3) menyandarkan turunnya hujan kepada bintang-bintang, dan (4) niyahah (meratapi orang yang telah meninggal dunia).” Kemudian Rasulullah bersabda: “Wanita yang meratapi kematian, jika dia tidak bertaubat sebelum ajal menjemputnya, maka kelak pada hari kiamat, dia akan dikenakan pakaian yang terbuat dari lelehan tembaga dan pakaian dari besi dalam keadaan tubuhnya berkudis dan berbau busuk.” (HR. Muslim no. 934 dalam Kitabul Jana’iz, Bab Ancaman yang Keras Terhadap Perbuatan Niyahah).

Hadits di atas merupakan salah satu dari tanda nubuwwah (kenabian) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena beliau mengatakan hal tersebut -empat sifat Jahiliyyah- dalam keadaan beliau masih hidup dan kemudian apa yang beliau katakan terbukti kebenarannya, umat ini terjangkiti empat sifat tercela tersebut sampai sekarang.

Sifat (perangai) itu adalah:

1. Berbangga dengan keturunan

Yaitu membanggakan keturunan nenek moyangnya. Misalnya adalah dia berbangga bapaknya sebagai  jenderal, atau bupati, atau keturunan ningrat (darah biru), atau keturunan orang kaya kemudian dia senang dipuji dengan tingginya kedudukan keturunannya. Contoh lain adalah dia berbangga kalau termasuk keturunan Ahlul Bait, kemudian melakukan perbuatan maksiat-maksiat dengan sangkaan bahwa Allah akan mengampuni perbuatannya karena dia keturunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sikap seperti ini masih ada dan sering kita mendengar seseorang dengan bangganya mengatakan: ’saya ahlul bait, jadi berbuat maksiat tidak mengapa.’ Maka kita katakan padanya: ‘Abu Thalib juga ahlul bait masuk neraka!!, Abu Jahl lebih dekat dari Rasulullah juga masuk neraka. Kalau seseorang tanpa keimanan padanya, pasti masuk neraka walupun dia Ahlul Bait. Bahkan Rasulullah sendiri berkata kepada Fathimah, putrinya sendiri: ‘Wahai Fathimah, jagalah jiwa kamu dari adzab Allah dengan melakukan ketaatan, saya tidak memiliki kekuasaan sedikitpun jika Allah mengadzab kamu.’ Perhatikanlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam manusia terbaik dan termulia tidak bisa menjamin anaknya sendiri, Padahal beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sudah dipastikan masuk Al-Jannah dan diampuni dosanya. Yang lebih parah dari itu apabila dia ‘mengaku-ngaku’ ahlul bait padahal tidak jelas keturunannya, sehingga dia melakukan maksiat dengan tenang.

2. Mencela keturunan orang lain

Yaitu mencela keturunan orang lain kemudian menghinakannya. Contohnya adalah perkataan: ‘dasar keturunan maling, ya wajar jadi maling!!’ Perbuatan seperti ini akan menyebabkan perpecahan sehingga dilarang di dalam Islam.

3. Menyandarkan turunnya hujan kepada bintang-bintang

Dan ini sudah dibahas pada pertemuan yang lalu bahwa dalam permasalahan ini terdapat dua pembagaian hukum yaitu syirik akbar dan syirik ashgar. Sementara syirik akbar sendiri terbagi menjadi dua, yaitu syirkun fil ibadah dan syirkun fir rububiyyah. Seseorang terjatuh ke dalam syirkun fil ibadah manakala dia meminta dan berdo’a kepada bintang: ‘Wahai bintang, turunkanlah hujan!’ Adapun seseorang yang terjatuh ke dalam syirkun fir rububiyyah manakala dia meyakini bahwa bintang itulah yang menurunkan hujan dan bintang itu juga yang memberikan pengaruh terjadinya hujan.

Berikutnya adalah sesorang yang terjatuh ke dalam syirik ashgar yaitu ketika dia menisbahkan (menyandarkan) turunnya hujan kepada bintang dengan pengertian bahwa dia menjadikan bintang-bintang itu sebagai sebab turunnya hujan sementara dia juga berkeyakinan bahwa Allah ta’ala yang menurunkan hujan. Yang perlu menjadi catatan penting adalah pelaku syirik ashgar pasti akan diadzab selagi dia belum bertaubat ketika meninggal, berbeda dengan pelaku dosa-dosa besar yang lainnya seperti berzina, membunuh jiwa yang bukan haq-nya, dan sebagainya, maka pelakunya di bawah kehendak Allah ‘azza wajalla, artinya kalau Allah berkehendak untuk mengampuninya, maka dia tidak akan diadzab, dan apabila Allah berkehendak untuk tidak mengampuninya, maka dia akan diadzab. Adapun dosa kecil, akan terhapus dengan al-hasanat (amal shalih), contohnya adalah melakukan puasa syawwal, puasa ‘asyura, serta amalan shalih lainnya. Adapun dosa syirik dia akan tetap diadzab walaupun syirik ashghar.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (termasuk di dalamnya syirik akbar dan syirik ashghar), dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa’: 48)

4. Meratapi orang yang telah meninggal

Yaitu meratapi orang yang telah meninggal dengan tangisan yang keras dan menyebut kebaikan-kebaikan si mayit berulang kali. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan  النائحة (orang yang melakukan niyahah) dalam bentuk mu’annats (jenis wanita), bukan berarti hukum ini berlaku khusus untuk wanita saja, tetapi laki-laki pun masuk dalam konteks hadits tersebut. Kemudian mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan pelaku niyahah ini dalam bentuk mu’annats? Jawabannya adalah karena keumuman / kebanyakan yang melakukan niyahah seperti ini ketika terjadi prosesi kematian adalah wanita. Wallahu A’lam.

Orang yang meratapi mayat jika dia belum bertaubat sebelum meninggalnya, maka dia akan dibangkitkan di yaumul qiyamah dalam keadaan berpakaian dari lelehan tembaga dan memakai pakaian besi yang biasa dipakai untuk berperang. Maksudnya adalah dia akan disiram dengan cairan tembaga yang meleleh kemudian dinyalakan api pada mereka sehingga seperti pakaian tembaga. Bersamaan itu pula baunya sangat busuk dan berkudis. Kondisi yang demikian akan terus dirasakan oleh pelaku niyahah.

CATATAN PENTING

Niyahah adalah termasuk dosa besar. Definisi dosa besar adalah:

ذَنْبٌ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ حَدٌّ فِي الدُّنْيَا أَوْ وَعِيْدٌ فِي اْلآخِرَةِ.

Yaitu suatu dosa yang berakibat ditegakkannya hukum hadd di dunia atau ancaman di akhirat.

Contohnya adalah zina dan mencuri. Maka ditegakkanlah hukum hadd atas pelaku kedua perbuatan tersebut di dunia, yaitu rajam dan potong tangan.

Atau dosa yang pelakunya diancam di akhirat akan mendapatkan siksaan yang demikian dan demikian. Seperti Niyahah ini.

Atau dosa besar itu adalah perbuatan yang ditunjukkan dengan jelas dalam suatu nash dengan lafazh ‘kaba-ir’, atau diancam laknat dan kemurkaan Allah subhanahu wata’ala. Dan dosa besar itu bertingkat-bertingkat, yang paling besar adalah dosa syirik.

FAIDAH YANG BISA DIPETIK DARI HADITS INI

1.    Celaan terhadap semua sifat dan perbuatan jelek yang merupakan perangai jahiliyyah.

2.    Haramnya berbangga dengan keturunan, mencela keturunan orang lain dan meratapi orang yang telah meninggal dunia.

3.    Pengkafiran orang yang menyandarkan turunnya hujan kepada bintang-bintang dengan keyakinan bahwasanya bintang-bintang itu sendirilah yang menurunkan hujan. Dan jenis  kekafiran seperti ini dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Adapun meyakini bahwasanya bintang-bintang ini sebagai sebab turunnya hujan, dan yang berkuasa demikian itu adalah Allah subhanahu wata’ala, maka ini kufrun duna kufrin yaitu suatu kekufuran tetapi pelakunya tidak dikeluarkan dari Islam.

4.    Larangan untuk tasyabbuh dengan orang-orang Jahiliyyah. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitakan tentang empat sifat dan perangai Jahiliyyah dalam hadits ini dalam rangka memperingatkan umatnya supaya tidak terjatuh ke dalamnya.

5.    Ada perbuatan / sifat Jahiliyyah yang tidak ditinggalkan seluruhnya oleh manusia dan umat Muhammad ini.

6.    Diterimanya taubat seseorang sebelum ruh sampai di tenggorokan.

7.    Bahwasanya taubat itu menghapus dosa, sekalipun dosa tersebut tergolong dosa besar. Dalam hadits ini, orang yang melakukan niyahah kalau dia tidak bertaubat maka dia akan diadzab dengan adzab sebagaimana yang disebutkan.

8.    Menetapkan mukjizat nabi. Telah benar apa yang dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu ada pada umat ini sampai sekarang.

9.    Penetapan hari kebangkitan dan pembalasan.

Setelah kita mengetahui faidah dari hadits tersebut, selayaknyalah kita mengamalkanya agar kita terhindar dari perbuatan-perbuatan Jahiliyyah ini sehingga menjadi orang-orang yang beruntung di dunia maupun di akhirat.

Insya Allah bersambung …

Sumber Website: http://www.assalafy.org/mahad/?p=428#more-428

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: